PREDATOR,
Ini bukan judul film yang telah banyak ditonton
masyarakat di layar lebar atau di stasiun tv, ini adalah hewan pemangsa hama.
Apa peran dan kegunaannya di dunia Entomologi dan dunia pertanian, mari sejenak
kita simak.
Predator,
dalam arti sederhana, predator hama adalah organisme pemangsa hama ( perusak
tanaman). Umumnya yang dimangsa adalah hewan yang lebih kecil atau lebih lemah
dari dirinya. Binatang yang ditangkap dan dimakan predator ini disebut mangsa.
Mangsa predator antara lain serangga hama. Predator hama termasuk kelompok
serangga tungau, laba laba, burung ular kucing dan binatang buas lainnya. Hal
ini mengingatkan kita pada kejadian outbreak TOMCAT,
yang menyerang pemukiman penduduk dan menyebabkan gatal gatal pada kulit, binatang ini termasuk predator untuk hama wereng.
yang menyerang pemukiman penduduk dan menyebabkan gatal gatal pada kulit, binatang ini termasuk predator untuk hama wereng.
Predator
merupakan mata rantai ekosistem dan berfungsi melangsungkan aliran energy
sehingga keberadaanya menentukan kestabilan ekosistem. Kondisi ekosistem
tanaman yang stabilmerupakan kondisi yang selaras, serasi, seimbang dan harmoni
ditandai dengan diversivitas biota yang tinggi dan hama terkendali.
Keunggulan
predator antara lain, terletak pada kemampuan mencari dan menemukan serta
merespons populasi hama. Predator mampu menemukan hama pada tempat tempat yang
tersembunyi dan yang sulit terpapar atau tersemprot racun kontak atau pestisida
hayati dan atau yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Ketika jamur dan
bakteri patogen tidak efektif mengendalikan hama pada musim kemarau yang
kering, predator tetap aktif mencari mangsa yang eksplosi dan banyak pada musim
kering seperti bangsa kutu, wereng dan tungau.
Dampak
revolusi hijau, semenjak kebutuhan hidup manusia dipenuhi dari hasil
mengusahakan dan memelihara sumberdaya alam antara lain pertanian yang intensif
dan ekstensif paling tidak di negeri kita memberi dampak yang luar biasa dan
signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dunia, namun hal ini juga
diikuti konsekuensi negative yang luar biasa.
Kualitas
tanah yang menurun akibat jenuh dengan pemakaian pupuk kimia dan pestisida
kimia yang mengganggu keseimbangan biologis tanah.
Lingkungan
rusak parah karena eksploitasi sumberdaya alam yang tidak bijaksana serta
adanya pencemaran lingkungan.
Biotipe
baru hama muncul akibat penggunaan varietas unggul tahan hama.
Resistensi
dan resurjensi hama timbul akibat aplikasi insektisida kimia yang tidak
bijaksana. Semestinya hama yang disemprot menjadi terkendali malah sebaliknya
menjadi eksplosi.
Tanaman
monokultur sangat rentan terhadap serangan hama dan dapat meningkatkan status
ekonomi hama. Sebagai contoh hama kutu perisai jenis Aulacapsis tegalensis yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan sebagai hama penting
pada perkebunan tebu.
Dari
berbagai hal tersebut alangkah indahnya untuk mengendalikan dan memelihara sang
predator yang berfungsi mengendalikan hama hama di sekitar pertanaman kita,
dengan cara pemakaian pestisida yang bijaksana dan alangkah baiknya jika kita
mengendalikan hama namun tidak mematikan sang predator tersebut karena terbukti
akan membantu dan mengendalikan hama. Pemakaian BVR Beveria bassiana mampu
mengendalikan 6 ordo yang berisi ribuan spesies hama, dan sang predator akan
terselamatkan karena tidak mengganggu kehidupan predator. Demikian juga
pemakaian Pestona, PENTANA, pestisida alami ini terbukti mampu menekan
perkembangan hama. Jika kita ingin membuatnya sendiri dari bahan bahan alami
disekitar kitapun juga cukup mudah, namun jika ingin praktis dan mudah bisa gunakan pestisida hayati dan pestisida
alami dari PT NATURAL NUSANTARA. Dan jika ingin menambah bahan bahan pestisida
alami lain yang ada di sekitar kita pada produk pestisida alami NASA, maka
bahan tersebut dapat dicampurkan saat penyemprotan dilapangan.
( dari berbagai sumber)

0 Response to "PREDATOR"
Posting Komentar